Akhir Tawuran di Aertembaga Polisi, Tokoh Agama, dan Pemuda Sepakat Berdamai

 


BITUNG –Viraltimes.id,  Upaya nyata menghentikan konflik pemuda akhirnya membuahkan hasil. Dua kelompok yang sebelumnya terlibat tawuran di wilayah Aertembaga, Kota Bitung, resmi mengakhiri permusuhan melalui Deklarasi Damai yang digelar di Mapolsek Aertembaga, Jumat (1/5/2026) sore.

Langkah ini bukan sekadar simbolis. Di balik suasana hangat dan penuh keakraban, tersimpan komitmen kuat untuk mengubur konflik yang selama ini meresahkan masyarakat.

Pertemuan yang dimulai pukul 15.35 WITA itu mempertemukan pemuda dari Kelurahan Pateten Satu, Kecamatan Aertembaga, dan Kelurahan Pateten Tiga (Kampung Unyil), Kecamatan Maesa. Difasilitasi langsung oleh kepolisian, forum ini menjadi ruang terbuka untuk berdialog, saling memahami, dan memperbaiki hubungan yang sempat retak akibat aksi tawuran.

Kapolsek Aertembaga, AKP Denny S. Tampenawas, menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi strategi utama dalam meredam konflik.

“Ini bukan sekadar deklarasi. Ini adalah komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Kami mengajak para pemuda meninggalkan kekerasan dan beralih ke kegiatan positif,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa aparat tidak akan ragu bertindak tegas jika pelanggaran kembali terjadi, terutama terkait penggunaan senjata tajam dan tindakan yang membahayakan.

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah kecamatan. Camat Aertembaga, Stenly Robert Tatipang, mengapresiasi langkah cepat kepolisian dalam memfasilitasi perdamaian.

“Jangan mudah terprovokasi. Tahan diri, selesaikan masalah dengan kepala dingin. Momen ini harus jadi titik balik untuk membangun kembali persaudaraan,” ujarnya.

Sementara itu, pesan moral turut disampaikan tokoh agama. Imam Masjid Al-Guffron Pateten, Ustadz Herson Kadir, mengajak para pemuda menjadikan perdamaian sebagai jalan hidup.

“Kontrol emosi, jaga diri, dan isi hidup dengan hal-hal bermanfaat. Tidak ada lagi ruang untuk tawuran,” pesannya.

Deklarasi damai yang dibacakan dan ditandatangani kedua kelompok menjadi puncak kegiatan. Mereka berkomitmen mengakhiri permusuhan, menolak provokasi, serta bersama-sama menjaga keamanan lingkungan.

Kegiatan yang berakhir pukul 16.45 WITA itu berlangsung aman dan kondusif. Lebih dari sekadar seremoni, momen ini menjadi bukti bahwa konflik sosial dapat diselesaikan melalui dialog, pendekatan humanis, dan kolaborasi lintas elemen.

Kini, harapan baru tumbuh di Aertembaga harapan akan lingkungan yang lebih damai, aman, dan penuh persaudaraan.

Sufaldi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama