Foto : Pengurus PBJSN (Persatuan Budayawan Jagad Suwung Nusantara) sebelah kiri ,kaos merah , bersama Warih Andono (wakil ketua DPRD Sidoarjo) dan para budayawan
SIDOARJO –Viraltimes.id, wacana pembentukan Dewan Adat Jenggolo kembali menguat sebagai langkah strategis dalam menjaga warisan budaya lokal Kabupaten Sidoarjo. Dekki Dento, pengurus PBJSN (Persatuan Budayawan Jagad Suwung Nusantara), menegaskan pentingnya kehadiran lembaga tersebut sebagai penjaga budaya, sejarah, sekaligus kontrol sosial di tengah masyarakat.
Menurut Dekki, Dewan Adat Jenggolo nantinya tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya berupa situs maupun ritus adat, tetapi juga menggali kembali sejarah-sejarah lokal yang masih jarang diketahui masyarakat luas, khususnya warga Sidoarjo sendiri.
“Banyak peninggalan sejarah, situs budaya, hingga tradisi leluhur yang sebenarnya sangat bernilai, tetapi belum tersampaikan secara luas kepada masyarakat. Dewan Adat Jenggolo harus hadir untuk mengangkat itu semua,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan Dewan Adat Jenggolo dapat menjadi ruang bersama bagi para budayawan untuk menyusun langkah nyata dalam menjaga identitas budaya Sidoarjo. Tidak hanya sebagai penjaga tradisi, lembaga ini juga diharapkan mampu menjadi kontrol sosial terhadap berbagai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian nilai-nilai lokal.
Dekki menilai, selama ini masih banyak kegiatan budaya maupun sosial yang justru lebih banyak digerakkan oleh pihak luar daerah. Padahal, pelaku budaya asli Sidoarjo memiliki potensi besar untuk menjadi aktor utama dalam pembangunan berbasis kearifan lokal.
“Ini bukan soal membatasi, tetapi bagaimana masyarakat asli Sidoarjo juga mendapatkan ruang, motivasi, dan manfaat secara ekonomi maupun sosial dari kegiatan budaya yang ada,” tegasnya.
Salah satu program yang dinilai penting untuk dikembangkan adalah Safari Punden, yakni kegiatan penelusuran situs-situs bersejarah dan lokasi-lokasi sakral yang memiliki nilai budaya tinggi di Sidoarjo. Program ini dinilai mampu menjadi sarana edukasi sekaligus promosi wisata budaya yang berdampak langsung pada masyarakat.
Melalui Safari Punden, masyarakat tidak hanya diajak mengenal sejarah daerahnya sendiri, tetapi juga mendapatkan informasi yang valid dari para budayawan dan pelaku sejarah. Jika dikemas secara baik, kegiatan tersebut bahkan berpotensi menarik wisatawan domestik hingga mancanegara.
“Kalau dikemas serius, ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang luar biasa. Tidak hanya untuk edukasi masyarakat lokal, tetapi juga membuka peluang kunjungan wisata dari luar daerah bahkan luar negeri,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk menjalankan berbagai program tersebut dibutuhkan sinergi kuat dengan pemerintah daerah, khususnya organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan para pemangku kebijakan di lingkungan Pemkab Sidoarjo. Kolaborasi ini dinilai penting agar program pelestarian budaya mendapat dukungan nyata, baik dari sisi kebijakan maupun alokasi anggaran.
Dekki berharap pemerintah dapat lebih melibatkan budayawan lokal dalam setiap agenda kebudayaan agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran dan benar-benar menyentuh akar budaya masyarakat.
“Kami ingin pemerintah menggandeng budayawan Sidoarjo, karena merekalah yang memahami sejarah dan karakter budaya daerah ini. Kalau sinergi terbangun, hasilnya akan jauh lebih maksimal,” katanya.
Ke depan, keberadaan Dewan Adat Jenggolo juga diharapkan dapat membantu OPD terkait dalam memetakan program budaya secara lebih fokus dan terarah. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Bagi Dekki Dento dan para budayawan lainnya, menjaga budaya bukan sekadar merawat masa lalu, melainkan investasi penting untuk masa depan Sidoarjo agar tetap memiliki identitas kuat di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
Sapto
