Gugur Saat Longsor , Praka Marinir Hamid Tinggalkan Istri yang Sedang Hamil 4 Bulan

 


Bandar Lampung,Viraltimes.id - Tangis pecah di rumah duka Kelurahan Way Dadi Baru, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung, Minggu (1/2/2026) siang. Di bawah langit yang mendung, kepergian Praka Marinir Hamid Dwi Ismail tak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga kisah pilu tentang mimpi keluarga yang terhenti sebelum sempat tumbuh.

Usai dishalatkan di rumah duka, jenazah prajurit Batalyon 9 Beruang Hitam/Brigif Lampung itu diusung menuju Tempat Pemakaman (TPU) Way Dadi , Kecamatan Sukarame , Bandar Lampung , Minggu (1/2/2026)

Langkah para pelayat mengiringi peti jenazah dengan wajah tertunduk, seolah enggan menerima kenyataan bahwa Hamid telah pergi untuk selamanya.

Praka Marinir Hamid Dwi Ismail gugur setelah tertimbun longsor saat menjalani latihan prapenugasan di Cisarua, Jawa Barat, pada 24 Januari lalu. Ia menjadi salah satu dari 23 prajurit Marinir yang kehilangan nyawa dalam peristiwa tragis tersebut.

Prosesi pemakaman dilakukan secara kedinasan militer. Dentuman tembakan salvo menggema di area pemakaman sebagai penghormatan terakhir dari kesatuan kepada prajurit muda yang gugur saat mengabdi kepada negara.

Di sisi liang lahat, istri almarhum tampak tak kuasa menahan air mata. Tubuhnya bergetar saat taburan tanah pertama dijatuhkan.

Di rahimnya, kehidupan baru tengah tumbuh, anak pertama yang belum sempat melihat wajah sang ayah. Hamid meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung empat bulan. Kepergian itu terasa semakin perih karena terjadi di saat-saat paling bahagia dalam kehidupan rumah tangganya.

"Dia itu lagi sayang-sayangnya sama istri. Istrinya lagi hamil empat bulan, anak pertama. Lagi senang-senangnya nunggu kelahiran cucu pertama kami, tapi Allah berkehendak lain,” ujar Yulianti, mertua almarhum, dengan suara bergetar.

 Menurut keluarga, Praka Marinir Hamid Dwi Ismail baru menikah sekitar satu tahun lalu. Kehidupan rumah tangganya dikenal harmonis, penuh perhatian, dan harapan akan masa depan. Komunikasi terakhir Hamid dengan keluarga terjadi sehari sebelum bencana longsor itu. Tak ada firasat buruk, hanya kabar singkat dan doa seperti biasanya sebelum menjalani latihan.

"Terakhir itu cuma bilang minta doa, katanya latihan seperti biasa. Kami tidak menyangka itu jadi kabar terakhir,” tutur Yulianti lirih. 

Hamid dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, dan bertanggung jawab. Sosoknya tak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga rekan-rekannya di kesatuan. Ia bersama prajurit lainnya tengah menjalani latihan prapenugasan dari Batalyon 9 Beruang Hitam Brigif 4 BS Lampung untuk persiapan penempatan tugas di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini.

Selain Hamid, satu prajurit Marinir asal Lampung lainnya, Kopda Marinir Randa Pratama, juga telah dimakamkan oleh pihak keluarga di Desa Mandah, Kabupaten Lampung Selatan.

Secara keseluruhan, terdapat enam jenazah prajurit Marinir asal Lampung yang telah ditemukan dan dimakamkan di berbagai wilayah di Provinsi Lampung. Empat prajurit lainnya, Praka Muhammad Kori, Serda Sidiq Hariyanto, Pratu Febry Bramantio, dan Praka Ari Kurniawan, lebih dahulu dimakamkan di Bandar Lampung, Lampung Timur, dan Lampung Utara.

@Widi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama