BANDA ACEH — ViralTimes.id
Di tengah sore yang teduh, Kamis 10 September 2026, halaman Kantor Gubernur Aceh berubah menjadi panggung demokrasi. Bukan dengan tembok dan pagar, melainkan dengan percakapan, sapaan, dan kesediaan untuk saling mendengar.
Mewakili Gubernur Aceh, Plt. Sekretaris Daerah Aceh Taufik, S.T., M.Si., berdiri di barisan terdepan. Di sampingnya, Kadis Distanbul Aceh Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP., MP., IPU., ASEAN Eng dan jajaran perangkat pemerintah Aceh menyambut rombongan mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang datang membawa keresahan sekaligus harapan tentang pemulihan pascabencana di Bumi Serambi Mekkah.
Bukan Sekadar Menerima, Tapi Merangkul
Alih-alih menutup pintu, Pemprov Aceh justru membuka gerbang lebih lebar.
"Pemerintah Aceh menghargai setiap aspirasi, kritik, dan masukan yang disampaikan masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa," tegas Taufik dengan suara tenang namun mantap.
Beliau mempersilakan para mahasiswa masuk ke area Kantor Gubernur. Langkah kecil itu menyimpan makna besar: bahwa kekuasaan tidak berdiri di atas, melainkan duduk sejajar untuk berdialog.
"Pemulihan Aceh bukan hanya tentang membangun kembali infrastruktur yang runtuh. Ia juga tentang membangun kembali kepercayaan, mendengar denyut nadi rakyat, dan bekerja bersama," lanjut Plt. Sekda.
Ketika Kritik Bertemu Telinga yang Mau Mendengar
Di bawah langit Banda Aceh, mahasiswa menyampaikan catatan panjang tentang penanganan dan pemulihan pascabencana. Ada data, ada tuntutan, ada juga kegelisahan generasi muda yang ingin Aceh bangkit lebih kuat.
Dan pemerintah mendengar.
Tidak ada pengusiran. Tidak ada pengabaian. Yang ada hanya ruang bicara yang dijaga dengan hormat.
Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, Kadis Distanbul Aceh, tampil sebagai sosok pemimpin yang tak hanya duduk di balik meja. Ia hadir, mencatat, dan menegaskan kesiapannya mendengar "jeritan hati masyarakat" yang disampaikan mahasiswa. Baginya, pembangunan pertanian dan pangan juga harus berpijak pada suara mereka yang paling merasakan dampak bencana.
Perbedaan Bukan Jarak, Tapi Jembatan
Aksi sore itu menorehkan pesan penting: perbedaan pandangan tidak harus menjadi tembok pemisah. Ia bisa menjadi jembatan.
"Aceh tidak dibangun dengan saling menjauh, tetapi dengan komunikasi, keterbukaan, dan kemauan untuk bersama-sama mencari jalan terbaik," ujar Taufik menutup pertemuan.
Di akhir pertemuan, Plt. Sekda mengajak seluruh mahasiswa untuk terus bersatu, merawat Aceh, dan menjaga Indonesia. Rangkulan itu bukan basa-basi. Ia adalah komitmen bahwa pemerintah hadir bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani.
di halaman Kantor Gubernur, kita belajar lagi. Bahwa demokrasi paling indah bukan saat semua setuju. Tapi saat yang berbeda pendapat, tetap mau duduk satu meja dan mencari solusi.
_Karena Aceh yang kuat, lahir dari dialog yang jujur._(Rian)
