Ratusan siswa dari SMAN 1 Woyla memperingati Rabu akhir di bulan safar dengan cara tradisional

Woyla - Viraltimes.id, Ratusan siswa dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) 1 Woyla, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat menggelar tradisi Tulak Bala atau dikenal juga sebagai Rabu Abeh dengan melakukan ritual Jalateh.

Tradisi Tulak Bala yang dilakukan setiap tahun pada akhir bulan Safar dalam tarikh Islam ini adakalanya diselipi sejumlah ritual tertentu.

Kepala Sekolah SMAN 1 Woyla, Ahmad sadikin, mengatakan, ritual Jalateh pada tradisi Tulak Bala sengaja dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengenalkan warisan nenek moyang yang selama ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Aceh Barat pada umumnya.

“Ini tradisi nenek moyang yang hampir sirna, jadi pihak sekolah menggali kembali tradisi lama itu biar tidak hilang dan anak-anak tau, karena selama ini yang anak anak tau tradisi Tulak Bala itu mereka ke pantai, ke pinggir laut, jadi kami rubah siswa itu wajib ke sekolah semua melakukan ritual istilahnya Jalateh,” kata Ahmad sadikin Rabu (12/8/2026).

Ahmad sadikin menjelaskan, pada saat pelaksanaan ritual Jalateh tersebut, para siswa berjalan kaki menuju sungai dengan jarak 1,5 kilometer sembari membawa tongkat, selama perjalanan juga para siswa sambil berzikir dan berdoa yang yang dipimpin oleh Teungku atau Ustad

Kemudian, lanjut Ahmad sadikin, setelah para siswa sampai ke pinggir sungai, para siswa juga melantunkan doa-doa agar dijauhkan dari segala musibah atau kejadian yang tidak diinginkan. Kemudian tongkat yang dibawa tadi dibuang ke sungai sembari mengumandangkan azan.

“Jalateh itu berdoa, anak anak bawa tongkat semua dipimpin oleh Teungku tiga orang biar tidak salah dalam berdoa, jadi kita jalan kaki menuju ke sungai, sampai ke pinggir sungai kita berdoa dijauhkan dari bala setelah berdoa tongkat yang dibawa itu dibuang ke sungai sambil mengumandangkan azan, intinya untuk membuang bala,” ujarnya.

Pada tradisi Jalateh ini juga, imbuhnya para siswa harus berjalan memutar untuk kembali ke sekolah dan tidak boleh melakukan perjalanan yang sama. Kemudian setelah sampai ke sekolah para siswa juga melakukan doa dan ditutup dengan makan-makan bersmaa.

“Kalau ritual ini tidak bisa pergi dan pulang di jalan yang sama, jadi siswa jalannya harus mutar, misal perginya dari depan pulangnya lewat belakang, setelah pulang dari ritual itu kita berdoa dan makan bersmaa baru kemudian pulang, karena kalau di Woyla itu kalau Rabu abeh memang gak sekolah,” imbuhnya.

Ahmad menyebut, pelaksanaan ritual Jalateh ini merupakan bukan lagi yang pertama kali dilakukan oleh pihak sekolah pada tradisi Tulak Bala. Menurutnya, kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat dan antusias luar biasa dari para siswa.

“Tadi juga banyak masyarakat yang melihat juga mereka juga merinding katanya, karena ritual Jalateh pada tradisi Tulak Bala ini sudah lama tidak dilaksanakan lagi. Para siswa juga semangat sekitar 95 persen ikut berpartisipasi,” pungkasnya.

Tousy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama