Pidie Jaya - Viraltimes.id, Satu kalimat "inshaa Allah giet,
dari seorang bupati seharusnya punya harga. Tapi di Pidie Jaya, kata itu kini kehilangan makna.
Hari Meugang lalu, wartawan ViralTimesid menghubungi Bupati H. Sibrah Malasyi. Untuk di bantu meugang Permintaan itu langsung di jawab " inshaa Allah giet'
Jawaban bupati cepat dan tegas: "Inshaa Allah giet". Giet= Iya. Giet= Siap. Giet= Akan ditunaikan.
Itu yang kami catat. Itu yang jadi pegangan.
Faktanya? Sampai hari ini, bantuan itu nihil. Tidak ada. Tidak ada kabar. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada tanggung jawab. Janji Meugang berubah jadi angin lalu.
1. Meugang Tentang Berbagi, Bukan Ingkar Janji.
Meugang itu tradisi Aceh. Daging dipotong, dibagikan ke fakir miskin, anak yatim, tetangga. Nilainya jelas: peduli dan menepati.
Tapi yang terjadi di ruang bupati justru kebalikannya. Janji diucapkan di hari paling sakral untuk berbagi, lalu dilupakan begitu saja.
2. Kami paham "Inshaa Allah " artinya menyerahkan pada Allah. Tapi "Giet" yang keluar setelahnya itu pernyataan kesanggupan. Dua kata itu tidak bisa dipisah untuk cuci tangan.
Kalau belum mampu, katakan tidak mampu. Lebih terhormat. Daripada "Giet" di depan, lalu bungkam di belakang.
3. Kepercayaan Publik Dipertaruhkan*
Warga Meureudu mulai bicara:
"Kalau pejabat sudah berani janji di depan wartawan, berarti itu komitmen publik. Kalau tidak ditepati, berarti integritasnya yang dipertanyakan" kata salah satu warga.
Ini bukan soal nominal bantuan. Ini soal marwah ucapan pemimpin. Hari ini wartawan yang ditanya, besok bisa jadi masyarakat yang ditipu.
Kami sudah berupaya konfirmasi ulang ke pihak Bupati Pidie Jaya. Jawabannya: bungkam.
Sampai H. Sibrah Malasyi berani menjelaskan ke publik dan menunaikan "Inshaa Allah Giet"-nya, maka kami akan terus catat. Karena tugas pers bukan hanya menulis janji, tapi juga mengawasi apakah janji itu ditepati.
Meugang sudah lewat. Tapi janji bupati belum selesai.
Maddi/Rian
