SIGLI– Viraltimes.id, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie memperkuat langkah pencegahan HIV/AIDS di lingkungan pemasyarakatan. Sepanjang 2026, Dinkes Pidie bersama RSUD Tgk. Chik Ditiro Sigli menggelar skrining HIV/AIDS serentak untuk ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan Kelas IIB Sigli, Lapas Perempuan Kelas IIB Sigli, dan Lapas Kelas IIB Kota Bakti.
Aksi ini berdasar surat resmi Dinkes Pidie Nomor 400.7.8.2/5809/2026 tanggal 3 Juni 2026 yang ditujukan ke tiga UPT Pemasyarakatan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Pidie, dr. Dwi Wijaya, menegaskan skrining ini bagian dari strategi kesehatan publik.
"Program ini kami jalankan bukan untuk memberi stigma, tapi untuk melindungi. Lapas dan rutan itu komunitas tertutup, jadi deteksi dini sangat penting. Kalau kita tahu status sedari awal, penularan bisa diputus dan WBP yang positif bisa langsung dapat pendampingan serta akses ARV," kata dr. Dwi Wijaya, Selasa 9 Juni 2026.
Ia menambahkan, target Dinkes Pidie di 2026 adalah skrining 100% WBP baru saat masuk, plus skrining berkala untuk WBP lama. Semua data nantinya masuk ke Sistem Informasi HIV/AIDS agar penanganannya lebih terukur.
RSUD siapkan layanan rujukan dan konseling
Direktur RSUD Tgk. Chik Ditiro Sigli, drg. Mohd. Riza Faisal, MARS, menyebut pihaknya mengerahkan tim VCT ke lapangan secara bergilir.
"Tim kami dari RSUD bersama Puskesmas bantu pelaksanaan konseling pra-tes, rapid test, sampai konseling pasca-tes. Kalau ada yang reaktif, langsung kita rujuk ke layanan PDP di RSUD. Kerahasiaan pasien jadi prioritas utama sesuai standar VCT," jelas drg. Riza Faisal.
Menurutnya, banyak WBP yang awalnya takut tes karena miskonsepsi. Karena itu edukasi jadi porsi terbesar kegiatan. Tim penyuluh meluruskan fakta: HIV tidak menular lewat berjabat tangan, makan bareng, atau pakai alat salat bersama
Di Lapas Perempuan Kelas IIB Sigli, skrining dilakukan tenaga kesehatan perempuan. Tujuannya agar warga binaan lebih terbuka saat konseling. Sementara di Rutan Sigli yang mayoritas berisi tahanan titipan, fokusnya ke WBP yang belum pernah tes. Di Lapas Kota Bakti, petugas menyiapkan ruang khusus agar kegiatan tidak ganggu pembinaan lain.
Kepala Rutan Kelas IIB Sigli mengapresiasi kolaborasi ini. "WBP yang sehat jasmani-rohaninya akan lebih siap ikut program pembinaan. Ini investasi untuk mereka kembali ke masyarakat," ujarnya.
Dengan target nasional 95-95-95, Dinkes Pidie berharap langkah jemput bola ini menekan stigma dan memastikan tidak ada WBP yang tertinggal dari layanan kesehatan.
Rian
