SULAWESI UTARA — Viraltimes.id, Ketika kamu besar nanti, nak dan mulai memahami bagaimana dunia bekerja, sampaikan kepada siapa pun bahwa ayahmu, ZHUL TAMPILANG, bukan manusia yang tunduk hanya karena tekanan.
Ayahmu mungkin bukan pejabat.
Bukan orang kaya raya.
Bukan pula orang yang selalu dipuji.
Tapi ayahmu pernah berdiri dengan pendirian yang keras, meski harus dihina, difitnah, bahkan dianggap tak berguna.
Ayahmu tidak ingin kamu tumbuh menjadi manusia yang hanya mengejar pujian dan jabatan.
Ayahmu hanya ingin kamu menjadi manusia yang berguna, yang hadir membawa manfaat bagi orang lain, bukan menjadi beban bagi rakyat kecil.Karena di negeri ini, ayah belajar satu hal, terkadang suara orang miskin tak dianggap sampai mereka ditakuti.
Kadang kejujuran kalah oleh kekuasaan.
Kadang hukum bisa dibeli, dan kebenaran dipaksa diam oleh uang.Itulah sebabnya ayah selalu mengajarkan kamu kerasnya hidup.Bukan karena ayah membencimu, tapi karena ayah ingin kamu kuat menghadapi dunia yang tak selalu adil.
Ayah ingin kamu memahami bahwa persaingan di kalangan elit bukan soal siapa paling pintar bicara, tapi siapa yang mampu bertahan tanpa kehilangan harga diri.
Tak perlu menjadi manusia yang merasa paling hebat karena titel dan ijazah.
Karena ayah melihat sendiri banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi membiarkan rakyat hidup sengsara.
Banyak yang pandai berbicara soal keadilan, namun diam ketika korupsi merajalela.
Cukuplah kamu bisa membaca kehidupan dan menghitung mana yang benar dan mana yang salah. Itu lebih berharga daripada gelar yang kehilangan hati nurani.
Masa lalu ayah memang keras.
Ayah pernah dicaci, dianggap pembawa masalah, bahkan disebut hanya menyusahkan keluarga dan orang sekitar.
Namun waktu membuktikan, Allah selalu punya jalan bagi orang yang tetap bertahan.
Ayah mungkin belum menjadi milioner.
Tapi ayah belajar bahwa hidup bukan sekadar soal kekayaan.
Sebab ketika semuanya mulai terlihat rapi, ayah justru menyaksikan bagaimana kebohongan dipelihara, bagaimana pejabat koruptor masih bisa dilindungi, dan bagaimana hukum terkadang tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Inilah negeri yang dulu ingin ayah perjuangkan untuk menjadi lebih baik.
Namun hari demi hari, ayah melihat banyak kepentingan bermain di belakang penderitaan rakyat.
Nak…
jika suatu saat nanti kamu membaca tulisan ini, jangan warisi kebencian ayah.
Warisilah keberanian ayah untuk berkata benar.
Warisilah keteguhan ayah untuk tetap berdiri meski sendirian. Karena dunia tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai tunduk. Dunia membutuhkan manusia yang berani menjaga hati nurani, meski harus melawan arus.
Sufaldi
