Disnaker Kota Tasik Gandeng Akpar LSF Indonesia Chef, Gelar Sertifikasi Bagi Relawan Dapur MBG

 


Tasikmalaya-viraltimes.id,Dengan adanya sertifikasi ini, para relawan dapur dan pekerja MBG merasa lebih percaya diri dalam menjalankan tugas, terutama dalam menyajikan makanan yang sehat, bergizi, dan sesuai standar higienitas.

 Selain itu, sertifikat kompetensi juga dinilai dapat menjadi bekal berharga untuk pengembangan karier di dunia kuliner dan jasa boga

Hal itu dikatakan Chef,Made saat  Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya,yang menggandeng Akademi Pariwisata serta LSF Indonesia Chef menggelar sertifikasi kompetensi bagi relawan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di bidang memasak,di Grand Metro Hotel,Jl.HZ.Musthafa,Kota Tasikmalaya,pada Sabtu(16-5-2026)

Lebih lanjut Made,berujar bahwa Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 29 peserta dari Tasikmalaya dan sekitarnya yang merupakan pekerja program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sertifikasi ini dilakukan untuk memastikan para relawan dapur memiliki kemampuan teknis sekaligus standar kerja profesional di bidang tata boga,"ujarnya

Asesor LSF Indonesia Chef, Chef Made, mengatakan para relawan dapur memang disarankan memiliki sertifikasi kompetensi sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan kerja mereka.

“Kebetulan kami memiliki lisensi untuk melaksanakan sertifikasi profesi di bidang cook atau memasak. Peserta yang ikut kali ini merupakan pekerja MBG dan relawan dapur SPPG dari Tasikmalaya dan sekitarnya,” kata Chef Made.

Untuk itu,dalam proses uji kompetensi, para peserta diminta membuat menu sesuai standar pemenuhan gizi yang berlaku pada program MBG. Menu tersebut harus memenuhi unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran hingga buah-buahan.

“Peserta diberikan tantangan membuat menu besar maupun menu kecil sesuai standar. Dari situ kami menilai apakah mereka mampu bekerja secara profesional dengan waktu yang sudah ditentukan,”terangnya

Meski bahan utama telah disediakan panitia, peserta tetap diberikan ruang untuk berkreasi dalam pengolahan makanan.

Chef Made menjelaskan, peserta diberi waktu total satu setengah jam dalam proses uji kompetensi. Rinciannya, satu jam untuk mengolah makanan, 15 menit untuk persiapan, serta 15 menit terakhir untuk membersihkan area dapur.

“Chef bukan hanya harus pintar mengolah makanan, tetapi juga wajib memastikan dapur tetap sehat, bersih, dan higienis setelah digunakan,” tegasnya.

Selain praktik memasak, peserta juga menjalani sesi wawancara guna menggali pola pikir, sikap kerja, hingga kemampuan komunikasi di lingkungan kerja. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam penilaian kompetensi.

“Kami ingin melihat bagaimana cara berpikir mereka, bagaimana komunikasi dengan rekan kerja, sehingga nantinya benar-benar layak mendapatkan predikat cook profesional,”kata Chef Made.

"Jadi  dalam sertifikasi tersebut tidak seluruh peserta otomatis dinyatakan lulus. Namun karena level yang diuji merupakan pekerja cook, penilaian lebih difokuskan pada kemampuan teknis dasar dan sikap kerja.

“Karena ini level pekerja, bukan kepala dapur atau manajer, maka yang dinilai lebih kepada kemampuan teknis, kedisiplinan, sikap, dan komunikasi kerja. Peluang lulus tentu lebih besar, tetapi tetap harus memenuhi standar kompetensi,” ujarnya

Dalam pelaksanaannya, LSF Indonesia Chef menerapkan empat metode penilaian, yakni pernyataan tertulis, wawancara, praktik memasak, serta pemenuhan dokumen pendukung lainnya sebagai bagian dari proses sertifikasi kompetensi.

sertifikasi kompetensi tersebut. Mereka menilai kegiatan ini menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menambah pengakuan profesional di bidang tata boga,"pungkasnya (MH)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama