Ternate- viraltimes.id, Dr. Adnan Mahmud di lahirkan dan tumbuh di suatu Desa terpencil Posi-Poso, sebuah kampung terpencil yang berada di Kecamatan Gane Barat Utara, kabupaten Halmahera Selatan. Saat itu, fasilitas pendidikan yang ada di kampungnya Masi sangat terbatas—bahkan Sang DR mengikuti pendidikan sekolah dasar (SD) pun sangat terbatas
Mengingat saat itu Setiap hari ia dan teman-temannya harus berjalan kaki sejauh kurang lebih delapan kilometer menuju Desa Samat, satu-satunya desa tetangga yang memiliki Sekolah Dasar Negeri.
Perjalanan itu bukan sekadar jauh, tetapi juga penuh rentang kendali pasalnya. Ketika air laut pasang dan harus menyeberangi dengan jalur, aliran sungai demi menempuh dan mengejar pendidikan dasar yaitu pendidikan SD karena pendidikan dasar atau pendidikan SD bukan berada di Desa yang Adnan tinggal tapi berada di Desa seberang Desa Samat sekarang daerah tersebut telah masuk dalam kecamatan pemakaran yaitu kecamatan Gane Barat Utara dulunya kecamatan Gane Barat kabupaten Maluku Utara provinsi Maluku dengan ibu kota kecamatan berkedudukan di Desa Saketa dalam perjuangan mengejar program pendidikan Dasar akhirnya saat mereka bersama teman-teman melewati jalur aliran sungai tersebut mereka melepas pakaian seragam sekolah saat melewati jalur tersebut
“Kalau saat air pasang, kami harus ‘batalanjang’, alias bugil, supaya seragam sekolah tetap bisa dipakai untuk besok hari mengingat pakaian Seragam juga saat itu sangat terbatas, serta faktor ekonomi kedua orang tua saat itu juga sangat Sederhana kenangnya sang Doktor sambil tersenyum mengenang masa kecil yang penuh perjuangan dan penuh tantangan
Namun keterbatasan bukan memadamkan semangatnya. tapi dengan tekad kuat, Adnan berhasil menempuh ujian akhir SD negeri Desa Samat.kecamatan Gane Barat Utara
Setelah lulus SD, Adnan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat di kampungnya. Meski kampung itu tidak memiliki sekolah dasar, tapi hanya keberadaan madrasah setingkat SMP hal tersebut menjadi berkah tersendiri bagi anak-anak desa.khususnya Desa posi-posi
“Alhamdulillah, walaupun tidak punya SD, di kampung kami ada Tsanawiyah Alkhairaat. Di situlah saya belajar sampai tamat,” Ujarnya
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke Ternate, tempat ia menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Alkhairaat. Di kota ternate ini, kehidupan Adnan tidak mudah. Ia tinggal sebagai anak pengampug di rumah keluarga Salim Kentji di Kelurahan Toboko.
“Dulu belum kenal istilah indekos. Saya tinggal bersama keluarga bapak Salim Kentji. Rumahnya persis di samping lampu merah perempatan Toboko. Mereka sangat berjasa dalam hidup saya,” kenangnya penuh rasa syukur.
Selepas Aliyah, Adnan merantau lebih jauh lagi ke Kota Palu untuk mengejar dan menempuh pendidikan tinggi di IAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah. Di kota inilah ia meraih gelar sarjana agama (S.Ag).
Masa kuliah di Palu juga meninggalkan banyak kisah inspiratif. Salah satunya adalah bagaimana kemampuan mengaji menjadi jalan kemudahan dalam hidupnya.
“Modal saya waktu itu cuma bisa mengaji. Dari situ saya bisa dapat kamar kost namun sebelum kost (kontrak) awalnya sebagai marbot (penjaga Masjid) sebuah kehidupan yang bukan hanya untuk meghindari membayar kost tapi juga membentuk ahlak dan Spiritualitas," ujarnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan gelar S1, sarjana Adnan melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia.di situlah Adnan Mengabdi dan Menjadi Rektor
Sekembalinya dari studi, Adnan mengabdikan diri sebagai dosen di IAIN Ternate, perguruan tinggi Islam yang memiliki sejarah panjang di Maluku Utara.
Di kampus itulah, perjalanan sang Doktor kariernya perlahan menanjak. Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, termasuk sebagai Wakil Rektor I. Hingga takdir membawanya ke posisi tertinggi di kampus tersebut sebagai Rektor.Sebuah jabatan yang tak pernah hadir dalam mimpi di saat masa kecilnya.
Ada satu kisah yang selalu dikenang Adnan setiap kali pulang ke kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tuanya.
Suatu hari, seorang sahabat almarhum ayahnya bercerita bahwa dahulu banyak warga kampung mempertanyakan keputusan sang ayah yang berani mengikut sertakan anaknya di sekolah agama, bukan sekolah negeri yang dianggap lebih mudah untuk mengantar anak menjadi pegawai negeri.
Namun ayahnya menjawab dengan sederhana. Biar saja. Yang penting nanti pulang kampung bisa jadi modim di masjid. cita" sang ayah sangat rendah di mata masyarakat tapi sangat muliyah di mata Allah karena Modim adalah petugas masjid yang bertugas membantu khatib atau imam dalam berbagai kegiatan ibadah.
“Alhamdulillah, mungkin karena doa bapak yang tulus, Allah memberi lebih dari harapannya. Saya memang jadi khatib, imam, dan penceramah, tapi belum pernah jadi modim. Malah Allah memberi amanah menjadi rektor, kata Adnan.Sekarang Sang Doktor.
Perjalanan hidup Adnan Mahmud adalah kisah tentang kesabaran,ketabahan, dan keyakinan pada takdir. dari sang ilahi Dari seorang anak kampung yang harus berjalan delapan kilometer demi mengejar pendidikan sekolah Dasar SD, ia kini berdiri sebagai pemimpin perguruan tinggi. Bagi Adnan, kunci dari semua pencapaian itu sederhana:yaitu kesabaran, kerja keras, dan tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu di sertai akhlak yang baik.
“Kalau kita sabar, dan berusaha, serta selalu menjaga hubungan dengan Allah, pasti selalu ada jalan," Ucapnya
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak dan generasi muda yang ada di Desa bahwa keterbatasan bukanlah tantangan dan penghalang untuk meraih mimpi besar. Kadang, takdir justru menunggu mereka yang terus berjalan, meski langkahnya dimulai dari Desa yang Sangat terpencil namun berlandaskan dengan kemauan serta usaha maka disitulah tagdir akan menjemput hasil perjuangan dan mimpi setiap orang.
Gandy haji
