Ternate- Viraltimes.id Pelaksanaan Musabaqah Tilwatil Qur'an tingkat Provinsi Maluku Utara yang digelar di basemen atau lantai dasar Masjid Raya Shaful Khaerat dengan sosialisasi yang sangat minim menuai kecaman keras kalangan ulama dan tokoh-tokoh Islam yang ada di Maluku utara.
Sikap Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda dinilai terkesan meremehkan agenda akbar umat Islam Sementara Disisi lain, Sherly Tjoanda menggelar rapat dan kegiatan -kegiatan resmi harus di tempat mewah tepatnya di hotel Bella, hotel bintang 4 miliknya dan dipastikan menguras anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) provinsi Maluku Utara.
“Kita kecam keras pelaksanaan MTQ di baseman Masjid Shaful Khaerat sementara kegiatan rapat saja di gelar di hotel bintang ungkap Sofyan Abas, akademisi dan aktivis muslim
Sebelumnya Ketua DPD Partai Gerindra Maluku Utara, Sahril Thahir, yang dilansir pernyataannya di media viraltimes id, menilai keputusan Pemprov tersebut sangat tidak etis. Menurutnya, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan seni membaca kitab suci, melainkan panggung dakwah utama untuk membumikan nilai-nilai luhur Al-Qur’an di tengah masyarakat
“Menempatkan kegiatan sebesar dan semulia ini di ruang bawah tanah terkesan meremehkan kegiatan Pemprov terlihat tidak menghargai makna dan kemuliaan kegiatan MTQ itu sendiri,” ujar Sahril, Senin (22/06/2026).
Sementara itu Ustadz H.Usman Muhamad, Ulama, Imam Besar Masjid Al- Munawwar kota Ternate mengakui sosialisasi MTQ Malut tahun 2026 sangat minim sehingga masyarakat sendiri tidak tahu iven Islam Akbar tersebut, berbeda jauh dengan MTQ di era sebelumnya kegiatnya sangat terasa di masyarakat Maluku Utara pada umumnya Namun kegiatan MTQ kali ini sangat masif sosialisasi. Sebab, menurut Mantan Ketua MUI Kota Ternate mengaku mendapat keluhan umat Islam terkait minimnya sosialisasi MTQ yang pelaksanaanya di Masjid Raya Shaful Khaerat di Sofifi.
“Setau saya sebagai mantan Sekretaris Umum Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPPTQ) Provinsi Maluku Utara, dalam kepanitiaan pelaksana MTQ maupun STQ disemua tingkatan (Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi sampai Nasional) ada bagian Dokumentasi dan Publikasi, mereka yang harus di publikasikan ke masyarakat, sehingga syiar MTQ terasa. Karena ada masyarakat bertanya kepada saya, ustadz padahal MTQ Provinsi sudah mulai ya? Kok kita tidak dengar lagu Mars MTQ di RRI? Kalau bagi saya berprasangka baik, mungkin dalam rangka efisiensi anggaran sehingga publikasi ditiadakan. Wallahu’a’lam bissawab,” ujarnya
Terpisah, Prof. Jubair Situmorang, guru besar di IAIN Ternate dan Ketua MUI Kota Ternate menilai, MTQ dengan fungsinya sebagai syiar Islam harus dilakukan dengan perencanaan yang baik.
“Sejatinya kegiatan agama itu salah satu fungsinya adalah syiar agama. Untuk mewujudkannya harus dibutuhkan perencanaan yang baik. Bagaimana realisasinya tentu sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah. Bagi kita jgn sampai menghilangkan semangat syi’ar Islam di zasirah Maluku Utara
Pelaksanaan MTQ Provinsi Maluku Utara yang terkesan ala kadarnya itu menuai penilaian kritis aktivis Islam. Mereka membandingkan prilaku dan kebijakan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda dengan kontingen Pesta Paduan Suara Gerejani atau Pesparawi Provinsi Maluku Utara di Papua dimana Gubernur Sherly mencarter pesawat untuk kontingen ke Papua.
“Gubernur rusak kedatangan haji sampai MTQ tidak ada peran sama skali kalau acara Pesparawi di Papua pesawat pun di carter”pungkas pemuda Muslim Maluku Utara
Hingga berita ini di turunkan masih berupaya untuk konfirmasi kepada Panitia MTQ dan Kabag Kesra Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Gandy haji
