SULAWESI UTARA —Viraltimes.id, Gelombang penolakan yang terjadi belakangan ini dinilai bukanlah representasi seluruh masyarakat Sulawesi Utara, melainkan hanya datang dari sebagian kelompok atau organisasi tertentu. Di tengah situasi yang memanas, masyarakat diingatkan agar tidak mudah terpancing hingga merusak persaudaraan yang selama ini terjaga dengan baik.
Perbedaan pandangan dan keyakinan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk saling menyerang ataupun membuka ruang konflik baru. Persoalan yang muncul saat ini pun disebut berawal dari pembahasan yang dianggap menyinggung keyakinan tertentu. Namun jika semua dibalas dengan kemarahan, penghinaan, dan rasa sakit hati, maka konflik tidak akan pernah menemukan ujungnya.
Sulawesi Utara sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, persaudaraan, dan kehidupan damai antar umat beragama. Warisan itu lahir dari perjuangan para leluhur adat yang mengajarkan pentingnya hidup berdampingan tanpa memandang perbedaan.
Masyarakat pun diajak untuk tidak kembali terjebak pada bayang-bayang sejarah kelam tahun 1999–2000 yang pernah melukai banyak pihak. Luka lama tidak seharusnya dijadikan alat untuk menakut-nakuti masyarakat ataupun memperkeruh suasana.
“Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menenangkan keadaan, menjadi penengah, dan menjaga kedamaian, bukan justru membuka kembali luka lama yang pernah terjadi,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika disebut bukan hanya sekadar semboyan negara, tetapi warisan bangsa yang wajib dijaga bersama. Kekompakan masyarakat Sulawesi Utara menjadi harga diri yang tidak boleh runtuh hanya karena perbedaan pandangan ataupun kepentingan kelompok tertentu.
Di tengah berbagai ancaman perpecahan dan kemerosotan moral yang terus bermunculan, masyarakat diharapkan tetap berdiri di jalan kebaikan, menjaga persaudaraan, serta mengedepankan kedamaian.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta dan mempertanggungjawabkan setiap ucapan maupun tindakannya.
Sufaldi
