Kepala Dispendikbud Sidoarjo Paparkan Arah Kebijakan Mutu Pendidikan di UMSIDA



Sidoarjo —Viraltimes id , Aula GKB 1 lantai 7 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) tampak penuh, Sabtu (10/01/2026), saat digelar kuliah tamu terbuka dengan tema “Manajemen Mutu Pendidikan: Kebijakan, Kepemimpinan Transformatif, dan Digitalisasi Pembelajaran.” 

Acara ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo,Dr. Tirto Adi, M.Pd., yang mengupas pendidikan dari sudut pandang filosofis hingga tantangan praktis di era digital.

Dalam paparannya, Dr. Tirto Adi menekankan pemahaman perbedaan mendasar antara pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran (learning) harus menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek penerima materi. 

“Pembelajaran menuntut keaktifan peserta didik dalam membangun pengetahuan, sementara pengajaran (teaching) lebih menekankan peran guru dalam transfer pengetahuan,” ujarnya di hadapan mahasiswa dan dosen UMSIDA.

Lebih jauh, ia menguraikan makna pendidikan dari perspektif ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara ontologis, pendidikan dipahami dalam tiga level. 

Pada level mikro, pendidikan berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar, baik di dalam maupun luar kelas, dengan mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap .

Pada level meso, pendidikan berperan menyiapkan sumber daya manusia yang andal, tidak hanya siap kerja di dunia usaha dan industri, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan.

“Hard skill penting, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa soft skill seperti kejujuran, tanggung jawab, ketangguhan, kemampuan komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, dan kreativitas justru menjadi penentu kesuksesan jangka panjang,” tegasnya.

Sementara pada level makro, pendidikan diposisikan sebagai proses pembudayaan (enculturation). Pendidikan, kata Dr. Tirto, bertugas melahirkan manusia beradab yang mampu menjaga harmoni dalam berbagai sektor kehidupan politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga keagamaan. 

“Jika tatanan kehidupan dikendalikan oleh manusia berbudaya, maka dunia akan bergerak menuju kedamaian dan kemajuan,” ujarnya.

Dari sisi epistemologis, pendidikan dipandang sebagai proses pembentukan pola pikir yang sistematis. Manusia yang terdidik adalah mereka yang memiliki mindset kokoh, terukur, dan mampu memecahkan persoalan hidup secara rasional.

 Adapun secara aksiologis, pendidikan menjalankan dua peran penting: homonisasi dan humanisasi. Homonisasi membentuk manusia agar mampu membedakan baik-buruk dan pantas-tidak pantas, sedangkan humanisasi menjadi puncak pendidikan kemampuan manusia untuk memanusiakan manusia lain.

Mengaitkan dengan tema besar manajemen mutu pendidikan, Dr. Tirto Adi menegaskan pentingnya kebijakan yang visioner, kepemimpinan transformatif, dan pemanfaatan digitalisasi pembelajaran. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi harus menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan mutu, akses, dan relevansi pendidikan.

Menutup kuliah tamu, ia mengutip pesan moral yang kuat. “Manusia terbaik adalah yang mampu memberi manfaat terbesar bagi manusia lain. Di situlah kulminasi hasil pendidikan,” tandasnya, disambut tepuk tangan peserta.

Kuliah tamu terbuka ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen sivitas akademika UMSIDA dalam mendorong mutu pendidikan yang berkarakter, adaptif terhadap perubahan, dan berorientasi pada kemanusiaan. (S7)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama