Filosofi Ungku Saliah Sosok Ulama Dari Sungai Sariak Pariaman Sumatera Barat.

 


Jambi-Viraltimes.id - 14/01/2026.

Ungku Saliah Lahir pada tahun 1887 dengan nama kecil Dawat, Ungku Saliah tumbuh di lingkungan yang religius. Nama "Saliah" sendiri merupakan gelar dari gurunya karena sifatnya yang saleh.

Sebagai penganut Mazhab Syafi’i dan pengamal ajaran tarekat, Ungku Saliah dikenal sebagai pribadi yang sangat santun dan tidak terlalu memikirkan harta duniawi.

Ungku Saliah adalah seorang ulama besar dari Pariaman, Sumatera Barat, yang memiliki nama asli Dawat, dan berasal dari suku Sikumbang (dari pihak ibu) dan Mandailing (dari pihak ayah).

Gelar "Ungku" adalah panggilan untuk guru mengaji, sementara "Saliah" (saleh) diberikan karena kesalehan dan budi pekertinya yang santun saat belajar ilmu tarekat kepada gurunya, Syekh Muhammad Yatim. 

Konon katanya beliau bisa menembus Sel Penjara hingga Berada di dua tempat, Inilah Kisah Keramat Ungku Saliah

Bagi para penikmat Nasi Padang, pemandangan foto seorang lelaki tua dengan kopiah hitam dan sarung yang melingkar di leher adalah hal yang sangat lumrah.

Namun, di balik foto yang menghiasi dinding-dinding rumah makan tersebut, tersimpan kisah luar biasa tentang seorang ulama besar yang dikenal memiliki karamah (keramat) di luar nalar manusia biasa.

Beliau adalah Ungku Saliah, sosok ulama kharismatik asal Padang Pariaman yang namanya tetap hidup meski telah tiada sejak puluhan tahun silam.

Namun, yang paling membuat namanya melegenda adalah deretan kisah kesaktian atau karamah yang dialaminya, terutama di masa-masa sulit perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Menembus Tembok Penjara

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah saat Ungku Saliah ditangkap oleh tentara Belanda dalam sebuah agresi militer.

Meskipun dikurung di dalam sel penjara yang dijaga ketat, kejadian aneh kerap terjadi.

Konon, setiap kali waktu shalat tiba, Ungku Saliah terlihat berada di luar sel sedang melaksanakan ibadah dengan tenang.

Begitu selesai, beliau kembali masuk ke dalam sel tanpa menyentuh kunci atau merusak jeruji besi sedikit pun.

Hal ini membuat tentara Belanda yang menjaganya kebingungan dan menggelengkan kepala.

Kemampuan "Meraga Sukma": Berada di Dua Tempat Sekaligus

Bagi masyarakat Pariaman, Ungku Saliah diyakini memiliki kemampuan meraga sukma.

Ada banyak kesaksian yang menyebutkan bahwa beliau pernah terlihat sedang memberikan pengajian di kampung halamannya, namun di waktu yang bersamaan, orang lain melihatnya sedang berada di pasar atau daerah lain yang jaraknya berjauhan.

Bahkan, ada cerita melegenda tentang keberadaan beliau di pasar (balai).

Konon, jika Ungku Saliah mendatangi sebuah kedai untuk membeli sesuatu, pedagang tersebut tidak boleh menolak meskipun uang yang diberikan kurang.

Mengapa? Karena dalam sekejap, dagangan di kedai tersebut dipercaya akan laris manis diserbu pembeli. Sebaliknya, jika pedagang tersebut tidak ramah, kedainya bisa mendadak sepi sepanjang hari.

Pawang Bencana yang Tajam Firasatnya

Kesaktian Ungku Saliah juga teruji saat beliau menyelamatkan warga dari ancaman bahaya.

Suatu kali, beliau meminta warga di Pasar Lubuak Aluang untuk segera mengangkat padi yang sedang dijemur karena akan turun hujan lebat, padahal langit sedang terik-teriknya.

Benar saja, tak lama kemudian bukan hanya hujan yang turun, tapi wilayah tersebut dihujani bom dan mortir oleh pesawat Belanda.

Berkat peringatannya, banyak warga yang selamat dari serangan maut tersebut.

Mengapa Fotonya Ada di Rumah Makan?

Meski banyak kisah ajaib, Muhammad Nasir, pengajar Kebudayaan Minangkabau di UIN Imam Bonjol, menjelaskan bahwa memajang foto Ungku Saliah di rumah makan bukanlah bentuk pemujaan atau penggunaan jimat.

Foto tersebut adalah bentuk penghormatan (tabarruk) dan identitas budaya.

Bagi pemilik rumah makan yang berasal dari Pariaman, foto Ungku Saliah adalah simbol keberkahan dan cara mereka "berkomunikasi" dengan sesama perantau.

Jika Anda melihat foto ini, itu adalah tanda bahwa pemiliknya adalah orang Pariaman yang menjaga tradisi menghormati ulama.

Akhir Hayat Ungku Saliah 

Ungku Saliah wafat pada 3 Agustus 1974 dan dimakamkan di suraunya di Nagari Sungai Sariak.

Hingga hari ini, makamnya yang dikenal sebagai Gubah Ungku Saliah tak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah.

Kisah Ungku Saliah adalah bukti bahwa bagi masyarakat Minangkabau, ilmu agama dan karamah seorang ulama adalah sesuatu yang sangat mulia.

Fotonya yang abadi di dinding-dinding rumah makan menjadi pengingat akan sosok bersahaja yang pernah menjadi pelindung rakyat di masa perang.

 Apriandi Tj Paris Sumbar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama